UNTUK tumbuh optimal, bukan saja nutrisi, pendidikan, dan nilai moral yang harus ditanamkan. Kecerdasan emosi buah hati Anda juga harus mulai diasah sedini mungkin.
Setiap orang di dunia memiliki kepribadian, karakter, dan emosi yang berbeda. Begitu pula pada balita (bawah lima tahun). Karakter anak pada usia ini sangat ditentukan oleh apa yang mereka lihat dan dengar. Semakin banyak anak usia dini mendengarkan atau melihat ketidakadilan di lingkungannya, itu akan membuat emosi anak semakin tidak menentu.
Kalaupun tidak melihat langsung ketidakadilan atau kekerasan di lingkungannya, televisi menjadi media yang produktif membuat anak-anak tidak bisa membedakan perubahan emosi pada dirinya. Ketidaksanggupan anak membedakan emosi, biasanya ditandai dengan tabiat suka marah yang sulit dikendalikan.
Anak tiba-tiba merasa senang berlebihan atau tiba-tiba berdiam diri tanpa tahu alasan dan penyebabnya.Tingkah laku tersebut biasanya berawal dari keinginannya untuk meniru apa yang mereka lihat. Meniru kemarahan tokoh di film kartun misalnya, atau menyaksikan si tokoh menangis dalam sinetron-sinetron.
Dan itu ingin diungkapkan anak-anak dengan caranya masing-masing. Lalu sebagai orangtua yang cerdas, Anda harus jeli mengamati sehat atau tidaknya emosi yang dimiliki anak. Jika anak sering marah tanpa alasan, menangis tanpa sebab atau berdiam diri tanpa ada persoalan yang menjadi pemicu, segeralah memperbaiki perubahan yang terjadi tersebut.
Caranya ternyata tidak terlalu sulit. Orangtua hanya disarankan untuk seringsering menerangkan kepada anak jenis emosi seperti apa yang sedang dilihat.
“Secara garis besar, ada dua hal utama dalam kecerdasan emosi anak, yaitu mengenali dan mengelola emosi. Langkah pertama mengajarkan kecerdasan emosi adalah mengenalkan berbagai jenis emosi kepada anak dengan menyebutkan jenis-jenis emosi,” kata psikolog alumnus Universitas Indonesia, Dewi Adrian Wijaya.
Menurut Dewi, tips sederhana dalam mengajarkan kecerdasan emosi adalah dengan sering menyebutkan berbagai jenis emosi langsung kepada anak. Misalnya anak sedang cemberut, maka orangtua dapat menegaskan situasi emosi tersebut, misalnya dengan menanyakan, “Adik cemberut,apa sedang kesal? Adik kesal apa karena Ibu melarang nonton televisi?” Dengan demikian, anak dipandu untuk terbiasa mengenali kondisi emosi dirinya dan penyebab munculnya emosi itu.
“Semakin sering anak mendengar jenis emosi dan pemicunya, anak akan diajarkan untuk menilai sendiri emosi seperti apa yang dimilikinya,” sebut dosen berjilbab tersebut.
Metode yang dilakukan itu sebenarnya bernama konsep kecerdasan emosi yang di Indonesia masih belum banyak diminati dan belum banyak dikenal orangtua. Namun, di Amerika kecerdasan emosi seperti itu sudah dipopulerkan oleh Daniel Goleman tahun 1995 lalu.
“Di Amerika orangtua semakin sadar dan yakin bahwa keberhasilan anak tidak lagi cukup dengan keterampilan teknis dan pengetahuan ilmiah.Tapi juga dengan kemampuan pengendalian diri dan hidup bermasyarakat, termasuk kemampuan mengenali emosi yang mereka miliki,” sebutnya.
Cara lain mengenalkan kecerdasan emosi kepada buah hati adalah dengan menunjukkan berbagai gambar, atau mengomentari situasi, baik di majalah, televisi, maupun media lainnya. Misalnya ketika melihat televisi di mana ada tokoh yang sedang sedih karena dinakali tokoh lainnya, maka orangtua harus berkomentar, “Aduh, kasihan sekali, pasti dia sangat sedih karena tindakan nakal temannya itu”. Hal yang sama dapat dilakukan pula saat membaca dongeng.
Orangtua perlu berkali-kali menyebutkan situasi emosi para tokoh dalam cerita tersebut. Selain memperkenalkan berbagai jenis emosi, pada saat yang sama, anak juga belajar hal-hal yang menyebabkan munculnya emosi tersebut. Misalnya perasaan sedih salah satu tokoh cerita karena ditipu atau dihina tokoh yang lain.
Orangtua juga dapat pula memberikan penilaian moril atas situasi tersebut, misalnya menghina adalah suatu perbuatan buruk dan jahat sehingga anak menjadi tahu nilai moril dari suatu perilaku. Senada dengan Dewi, ibu rumah tangga Hartati mengaku mengajarkan kecerdasan emosi kepada putranya dengan memberikan alasan apa yang membuat dirinya marah atau sedih.
“Ketika saya sedih melihat putra saya nakal, saya akan mengatakan langsung kalau saya sedih dan menerangkan pula apa yang menyebabkan kesedihan itu,” katanya.
Hartati akan mengatakan secara terbuka kepada putranya yang masih berusia empat tahun tentang perasaan lain yang dirasakannya pada saat itu.
“Jika sudah terbiasa, anak tidak akan sungkansungkan mengungkapkan perasaannya. Entah itu sedih, marah dan senang, dan itu telah saya alami dengan putra saya Robi,” tuturnya. (Koran SI/Koran SI/nsa)
sumber : www.okezone.com