BANTU ANAK HADAPI PUBERTAS

BUTUH waktu untuk beradaptasi saat anak memasuki masa pubertas. Jangan biarkan anak bingung dan salah arah menghadapinya. Di sinilah peran orangtua dibutuhkan. Kehidupan masa remaja memang penuh dinamika.

Inilah masa ketika anak-anak mulai memasuki remaja. Puber-sebutan populernya, biasanya ditandai dengan berkembangnya atau tampaknya karakteristik seks sekunder (secondary sex characteristic).

Pada perempuan misalnya, menstruasi (tanda utama), payudara membesar, pinggul menjadi lebih berisi, bertambahnya bulu-bulu di sekitar kemaluan. Sementara lelaki ditandai dengan munculnya bulu-bulu di tubuh (kumis, dan lainnya), tubuh lebih berisi, otot berkembang, suara menjadi lebih berat. Secara garis besar, alat reproduksi mereka sudah mulai berfungsi.

“Masa puber biasanya dialami pada anak yang berumur kurang lebih 11 tahun,” ucap psikolog dari Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) Clara Moningka SPsi MSi.

Namun, ada juga remaja yang mengawali masa puber lebih awal, ada yang lebih lambat. Semuanya bergantung keadaan hormonal serta asupan gizi. Secara fisik, masa puber pasti harus dilalui setiap orang. Bukan masa yang seharusnya menjadi masalah besar, melainkan memang merupakan bagian dari tugas perkembangan manusia. Pada masa tersebut, biasanya anak menjadi tertarik pada lawan jenis.

Rasa suka terhadap lawan jenis wajar terjadi pada masa ini.Sebab, mereka secara psikologis mulai menyadari perbedaan antara perempuan dan laki-laki dengan lebih gamblang. Anak pun mulai memperhatikan penampilan, merasa malu karena perbedaan, bahkan ada pula yang merasa bangga.

Namun, bagaimana jika perilaku anak yang belum memasuki masa puber namun sudah menunjukkan perilaku seperti anak yang puber, misalnya dari cara berbicara, cara berpacaran, itu bisa disebabkan pengaruh lingkungan.

Konsumsi publik seperti sinetron, film, yang mempertontonkan pembicaraan orang dewasa yang dilakukan anak atau remaja kerap dicontoh, belum lagi kalau orangtua atau sekolah tidak memberikan pendidikan seks.

“Lingkungan pergaulan juga dapat membuat anak menjadi terpengaruh,” ucapnya.

Hal yang sama juga dikatakan psikolog anak Dra Roslina Verauli MPsi bahwa perubahan yang terjadi di lingkungan turut memengaruhi seorang anak berubah, baik cara berpikir maupun bertindak.

“Paparan informasi yang bisa diakses anak kapan pun dari media mana pun, televisi, radio, internet, buku, dan majalah, turut memengaruhi apa yang dimiliki anak remaja saat ini di kepalanya,” ucap psikolog yang akrab disapa Vera.

Vera menjelaskan, pubertas merupakan fase saat seorang anak mencapai kematangan secara seksual, dalam pengertian organ-organ seksual, yang memungkinkan seseorang bereproduksi. Setiap anak mengalami pubertas dalam usia yang berbeda-beda.

Pada perempuan, siklus menstruasi rata-rata bermula saat seorang anak berusia 12 atau 13 tahun. Namun pada beberapa anak, siklus ini mulai lebih cepat, yakni usia sembilan tahun,bahkan ada yang juga sangat lama yakni usia 18 tahun.

enstruasi biasanya tak akan mulai bila tubuh belum mencapai tingkat pertumbuhan tertentu dalam tinggi dan berat badan.Sementara pada laki-laki, pubertas bermula lebih lambat sekitar dua tahun dibandingkan rata-rata perempuan, yakni usia sekitar 14 atau 15 tahun. Banyak yang berubah saat anak memasuki puber, termasuk perubahan proses berpikir.

Proses berpikir selalu mengalami perubahan sejak kecil hingga remaja. Pada saat remaja, terjadi transformasi berpikir. Remaja sudah mulai mampu berpikir secara abstrak, yang secara radikal berbeda dari cara berpikir saat masa kanak-kanak.

“Sayangnya pada usia remaja, dengan transformasi berpikir tadi, mulai muncul pula cara berpikir berupa egosentrisme dalam cara yang baru,” ucap psikolog lulusan Universitas Indonesia ini.

Cara berpikir tersebut bisa muncul ketika remaja merasa seolaholah menjadi perhatian dari orang lain sehingga selalu merasa bahwa orang lain memiliki pemikiran tertentu tentang dirinya. Yang mengakibatkan remaja gagal melihat dari sudut pandang orang lain, karena apa yang dia pikiran tadi muncul dari perspektif dirinya sendiri.

Timbul pula reaksi emosi anak atas perubahan-perubahan yang terjadi. Ketika dia melihat mulai tumbuh bulu di sekujur tubuhnya, atau dada yang berkembang, penis yang berkembang, panggul yang membesar, hingga jerawat yang mulai menyerang.

“Semua perubahan ini menjadi perhatian dari remaja,” tandas psikolog yang juga berpraktik di Empati Development Center.

Beberapa reaksi anak atas perubahan yang terjadi pada dirinya di antaranya ada pula yang memiliki sifat pemberontak. Vera mengatakan bahwa salah satu penyebab anak “rebel” alias menentang adalah saat dia merasa apa yang menjadi kebutuhan dan keinginannya gagal dipahami orangtua.

Bahkan, orangtua dipersepsi sebagai figur yang terlalu dominan dan keras sehingga tidak memberi kesempatan bagi anak untuk mengekspresikan diri dan pikirannya.

“Ketika orangtua terlalu keras,anak akan bereaksi ‘bertahan’ bahkan menjadi ‘agresif’,” ujarnya.

Sayangnya, ketika orangtua terlalu keras,agresivitas anak tampil secara pasif, melalui serangkaian aksi menentang yang tidak ditunjukkan secara langsung. Misalnya dengan sengaja menunda-nunda instruksi atau perintah orangtua, atau malah tidak mengacuhkan setiap perkataan orangtua, bahkan melakukan apa pun yang dilarang orangtua (tentu saja dari belakang).

“Jadi yang harus dilakukan orangtua saat mengantarkan anak pada masa puber, adalah dengan menyiapkan diri untuk memosisikan diri sebagai teman,” ujarnya. Teman, artinya sebagai partner yang seimbang.

Sanggupkah orangtua berperan sebagai orang yang “membekali” anak dengan berbagai wawasan pengetahuan dan keahlian tanpa menjadi orang yang otoriter dan diktator? Yang bukan berperan sebagai pengawas atau dewan penyidik yang terus memosisikan diri sebagai sosok yang berada di “atas” anak, serta selalu merasa paling berhak atas cara bagaimana anak berpikir dan bertindak. Sebab, tak ada yang paling tahu tentang diri seseorang kecuali dirinya sendiri.

“Yang anak butuhkan dari orangtua adalah wawasan yang lebih luas agar dia memiliki berbagai sudut pandang dalam menghadapi tantangan-tantangan yang dia miliki,” ucap psikolog yang mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara ini.

Orangtua juga harus memiliki wawasan yang memadai.Bagaimana Anda bisa memasuki dunia anak bila Anda bahkan tak tahu apa itu Facebook, Twitter, YM, atau siapa itu Miley Cyrus, Zack Efron, dan Mark Zuckerberg. Bahkan, Anda tak tahu ada bidang yang namanya kuliner dan fashion designer.

“Bagaimana Anda akan memberikan wawasan yang luas kepada anak, ketika Anda bahkan tak tahu bagaimana caranya berbicara dalam ‘bahasa’ remaja,” paparnya.

(Koran SI/Koran SI/nsa)

sumber : www.okezone.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.